Kegiatan ini merupakan tindak lanjut surat Pemerintah Kabupaten Sinjai melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) terkait pelaksanaan rembuk stunting di tingkat desa.
Rembuk stunting tersebut dihadiri unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, pendamping desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), kader Posyandu dan Bina Keluarga Balita (BKB), guru PAUD, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai pihak terkait lainnya.
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah konkret dalam upaya percepatan penurunan angka stunting melalui sinergi lintas sektor.
Dalam forum tersebut, peserta membahas sejumlah program prioritas yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, sanitasi lingkungan, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, serta penguatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Kepala Desa Saotanre, Andi Sulaeman, dalam sambutannya menegaskan bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Stunting bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan generasi penerus desa. Karena itu, Pemerintah Desa Saotanre berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu dan anak serta memperkuat kolaborasi dengan seluruh pihak dalam upaya pencegahan stunting,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Sinjai Tengah, Andi Syahrul Paesa, mengapresiasi langkah Pemerintah Desa Saotanre yang aktif melaksanakan rembuk stunting sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional percepatan penurunan stunting.
“Keberhasilan penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat. Saya berharap hasil rembuk ini dapat melahirkan program yang tepat sasaran dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Puskesmas Lappadata, Hj. Mardiah, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah stunting melalui pemenuhan gizi seimbang serta pemantauan kesehatan ibu hamil dan balita.
“Pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan hingga usia balita. Melalui kerja sama yang baik antara tenaga kesehatan, kader, dan keluarga, kita optimistis angka stunting dapat terus ditekan sehingga anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan produktif,” jelasnya.
Pendamping Desa Saotanre, Wahyuniar, menyampaikan bahwa Rembuk Stunting merupakan momentum penting untuk menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun perencanaan pembangunan desa yang responsif terhadap upaya pencegahan dan penanganan stunting.
“Rembuk Stunting bukan hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga wadah untuk memastikan program dan kegiatan yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak. Kami berharap seluruh hasil kesepakatan yang lahir dari rembuk ini dapat menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan desa ke depan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat agar berbagai program yang telah direncanakan dapat berjalan efektif serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Desa Saotanre.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Desa Saotanre berharap seluruh pemangku kepentingan semakin memperkuat komitmen bersama dalam mendukung program percepatan penurunan stunting demi terwujudnya generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing.
Hasil rembuk yang telah disepakati selanjutnya akan menjadi salah satu dasar dalam penyusunan program dan kegiatan pembangunan desa yang mendukung percepatan penurunan stunting secara berkelanjutan di Desa Saotanre.(AGUS)

